Kamis, 15 Maret 2012

MENGGAPAI ATAP SUMATERA ( GUNUNG KERINCI 3805 MDPL )




RACUN DARI KAWAN

Pagi itu, di awal di bulan Desember 2011, Yahoo Messenger ku berbunyi, menandakan ada pesan masuk. Terlihat jelas dari nama Ned_aikikai alias Andhika akbar eksponen MEPA dilayar monitorku :

“ Kerinci gan, bulan ini”

“ yang bener gan, kapan?”

“pertengahan bulan, ada promo beli satu dapat satu, dari sriwijaya air, kita ambil cuti 3 hari trus lanjut ke sabtu minggu, kita naek kerinci dan gunung danau tujuh”

“oke bos, liat nanti ya, gue cek cuti gue”

“kalo elu gakbisa, gue tetep berangkat sendiri karena udah cuti dan udah niat”

Setelah YMan ama kawan gue, gue terus telepon HRD, “Mas, cutiku masih ada berapa hari?” tanyaku diujung telepon, “sebentar mas, saya cek dulu.” Sahut si HRD ( mungkin dia lagi ngecek di komputernya hehe..), masih ada 3 hari mas” sambung dia. “ O, masih ada ya,harus dipake tahun ini? Atau bisa diduitin? “ tanyaku basa basi.” Gakbisa mas, harus dihabiskan bulan ini kalo tidak akan hangus dan tidak bisa diakumulasi tahun depan.

YES,YES YES, hati gue gembira ,bak seorang anak kecil yang mendapat mainan baru, langsung gue isi form cuti dan hari itu juga gue naikkan ke atasan gue. Sekarang yang gue siapkan untuk urusan kantor ini adalah menyelesaikan kerjaan yang masih ada sebelum gue tinggal pergi nanti. Sedang untuk persiapan pendakia, gue hanya jogging dan futsal selonggarnya waktu ( maklum , Cuma kuli ..)

Setelah pasti dapat cuti dan langsung gue habiskan 3 hari juga ( 14,15,16 desember 2011 ). Sekarang waktunya nyari tiket, promo yang ditawarkan dari Sriwijaya Air beli satu dapat satu ternyata banyak syarat dan ketentuannya yang berlaku. Sementara andhika sudah dapat tiketnya untuk keberangkatan hari Rabu,14 desember 2011 tengah siang. Saat mendekati hari H, andhika mengirim satu sms”mas,aku hari rabu pelantikan CPNS jadi aku berangkat kamis,tiket akan aku ubah” “oke”balas smsku.

Membaca smsnya, akhirnya H-3 saya udah mendapatkan 1 lembar tiket bolak balik tapi gue tidak jadi berangkat hari rabu, gue undur juga di hari kamis dan pulang di hari minggu. Jadi hari rabu, harusnya gue cuti, tapi gue masih kerja hehe

BERANGKAT KE SUMATERA

Kamis ( 15/12/2011 ); pagi pagi gue udah tinggalkan kost, setelah sarapan di abah kost gue pamitan dan menuju ke pasar minggu. Dari pasar minggu bus damri berangkat jam 10.00 pagi, tapi Alamak! hari itu Jalan Raya Rasar Minggu macet sekali dan bahkan dibilang padat merayap yang membuat gue pamer p*nis ( padat merayap pengin nangis ). Sementara pesawat berangkat jam 12.30 dan gue harus chek in sebelum jam 11.45. Rasa galau dan gundah gue mulai datang, tanpa pikir panjang gue turun dari bus ini saat di Duren Tiga, gue ganti moda lain yaitu ojeg, ya.. hanya ojeg yang mampu menembus kemacetan Jakarta. Gue turun di dekat pintu tol Pancoran dan sekitar 5 menit, gue dapat taksi dan langsung melaju ke Bandara Soekarno Hatta menuju terminal 1b keberangkatan domestik Sumatera. Sampai disana bro Andhika sudah menunggu dan pas waktu akhirnya gue bisa check in, total bawaanku kemarin mencapai sekitar 9 kg, saat ditimbang dan masuk bagasi. Ah lega..selang beberapa menit, pesawat lepas landas dan meninggalkan udara Jakarta, menembus batas Banten dan mengangkasa diatas selat Sunda serta membelah langit Sumatera untuk tujuan kota Padang.

Catatan : Kalo anda mau ke Bandara Soekarno Hatta, usahakan jangan naek dari Pasar Minggu di siang hari, karena kemcacetan disana sangat parah.

Pesawat berwarna putih dengan corak logo merah dan biru yang namanya mengingatkan kepada salah satu kerajaan di Sumatera, mendarat mulus di landasan pacu Bandara International Minangkabau padang. Keramahan suku Minang mulai terasa dan logat melayu yang kental dari awak pesawat, para sopir taksi ataupun travel serta pelayan restoran menyambut kedatangan kami. Untuk menuju ke kota padang, kami memilih angkutan damri dengan imbalan sebesar 18000IDR. Setelah penuh, damri pun meninggalkan bandara dan menuju kota Padang. Selang sekitar 30 menit kamipun samapi di travel Ayu, tepatnya di Jln S Parman dekat dengan DPRD kota Padang dan Mall Basko. Dari situ kami akan melanjutkan perjalanan ke kersik tuo.

Di kota Padang ini, jarang ditemui bus antar kota. Untuk menghubungkan dari satu kota ke kota lain biasanya memakai jasa travel. Dari Padang ke Kersik tuo bisa menggunakan travel yang menuju Sungai Penuh Jambi di pagi hari atau di malam hari. Kalo malam hari jam 7 malam udah brangkat meninggalkan padang. Ada beberapa alternatif mobil seperti Avanza, Xenia atau mobil engkel sejenis ELF yang besar. Kami menggunakan ELF dengan ongkos 70ribu perorang. Jam 7 pun ELF meninggalkan kota Padang menembus jalanan Sumatera yang berkelok kelok menuju Kersik tuo, Kerinci. Sekitar jam 2 malam, mobil sudah nyampai di basecamp pendaki pak Paiman di pinggir jalan raya Kersik Tuo – Sungai Penuh. Masih beruntung malam itu, ketika kami ketok pintu, ibu Iman masih terjaga dan membuka pintu, mempersilahkan kita masuk tetapi semua kamar sudah penuh dan kamipun merebahkan badan di sofa empuk ruang tamu beliau hingga terlelap sampai pagi menjelang. Di sekitar Kersik Tuo tugu macan,memang cukup banyak penginapan/guest house tapi yang terkenal hanya rumah almarhum pak Paiman, seorang transmigran dari jawa dan lama menetap di jambi ( Kersik Tuo ) bertani dan berkebun teh. Base camp ini sangat terkenal di Indonesia dan dunia, bahkan buku petunjuk travelling International seperti lonely planet pun merekomendasikannya juga.

MENDAKI KERINCI

Jumat, 16 desember 2011 pagi aktivitas di base camp mulai menggeliat, para penyewa kamar sudah terbangun termasuk tuan rumah. Kamipun bergegas juga, setelah mandi sarapan dan packing ulang, kami pamitan untuk mendaki kerinci. Sebelum berangkat kami berpose berpoto dulu di depan tugu macan, sebuah tugu yang menjadi penanda pintu masuk kerinci di Kersik Tuo. Trus berjalan kaki menyusuri aspal jalanan dengan kebun teh dikanan kirinya, beruntung dapet tumpangan pick up sampai pertigaan dan lanjut jalan kaki lagi ke pintu rimba R10. Dari pintu rimba, perjalanan mulai memasuki hutan yang cukup lebat dengan jalan setapak. Cuaca pagi itu cukup bersahabat, matahari bersinar terang, sinarnya menembus di sela sela dedaunan, dengan beban sekitar 10 kg di pundakku aku terus menerobos lebatnya hutan Kerinci. Dan disini masih ada harimau sumatera yang melegenda itu, dan dijadikan lambang TNKS dengan kepala macan di lambangnya.

Tujuan kami semula adalah shelter 3. Shelter 3 ini sudah di ketinggian 3000mdpl. Sebelum mencapai shelter 3, kami harus melewati pos 1 kemudian pos 2 terus pos 3 baru shelter 1. Di shelter 1 ini terdapat semacam pos/tempat yang cukup permanen untuk berlindung atau membuka tenda. Dari shelter 1 perjalanan langsung berlanjut ke shelter 2.


Kurang lebih jam 02.30an siang kami nyampai di shelter 2. Setelah sampai di shelter 2, kami berubah pikiran, karena berbagai pertimbangan, antara lain jika di shelter 3 medannya sangat terbuka, jadi resiko angin kencang ataupun badai akan mencumbui kita serta shelter 2 ke shelter 3 perjalanan cukup berat apalagi ditambah dengan memanggul ransel. Cukup luas tempat di shelter 2 ini, bisa 4 sampai 5 tenda dan tempatnya tertutup sehingga angin tidak langsung menerpa langsung serta di shelter 2 ini ada bekas pos juga walau hanya tinggal tiangnya saja.

Tenda Mountain Hard Wear Drifter 2 seri Ultralight bro Andhika berdiri kokoh di samping tiang bekas pos di shelter ini, dipojokan terlindung dari angin karena disamping dan dibelakang ada tanah tinggi. Di deket situ ada sebuah palstik penampungan air yang tampaknya sengaja ditinggal para pendaki untuk menampung air hujan, saya sempet ambil airnya, cukup bersih juga. Lumayan untuk bekal jika airnya habis hehehe. Setelah tenda berdiri, saatnya makan dengan nasi bungkus yang dibawa dari bawah, memasak air untuk ngopi dan beristirahat merebahkan badan. Bekal yang kami bawa tidak terlalu banyak karena rencananya hanya 2 hari satu malam di kerinci. Hujan gerimis sempat mengucur dari langit walau sebentar atau cuman awan hitam yang tertiup angin sehingga meneteskan air hujan. Di malam hari udara cukup dingin dan angin cukup kencang, tapi cuaca malam itu bagus, tidak ada hujan.

MENUJU PUNCAK KERINCI

Sabtu, 17 Desember 2011 pagi pagi buta kami bangun, bersiap siap untuk mendaki puncak sumatera, puncak gunung api tertinggi di Indonesia, puncak kedua tertinggi di Indonesia setelah Cartenz. Sekitar jam 4 pagi, kami tinggalkan tenda, hanya berbekal senter, jaket tebal, ponco yang dimasukan kedalam daypack beserta kamera, dan air serta makana ringan. Perjalanan terlebih dahulu menuju ke shelter 3. Benar apa yang telah diprediksi, jalanan ke shelter 3 cukup berat, bahkan ada satu jalan yang amat kedalam, licin dan harus merentangkan kaki diantara dinding2nya. Sementara cuaca cukup cerah, tanpa hujan dan berkabut – sesuatu yang khas dijumpai di pegunungan-. Sampai di shelter 3 pukul 05.12, disini emang terlihat shelter ini sangat terbuka medannya dengan ketinggian yang sudah mencapai 3000Mdpl. Setelah melewati shelter ini, keatas akan melewati batas vegetasi dan berganti dengan medan yang terjal tanpa sebatang pohon pun dengan batu batu besar, kecil dan ukuran sedang yang berserakan. Tingkat kemiringan yang cukup ekstrim harus diwaspadai, karena kalau terpeleset bisa terperosok ke dalam jurang yang ada di kanan kiri jalan, banyak juga batu yang sengaja disusun bertumpuk untuk sebagai tanda agar tidak tersesat saat pulang nanti. Kerikil tajam dan batu batu tajam banyak dijumpai disini. Hari itu tidak ada pendaki yang lain yang mendaki kerinci, saat kami naek, kami berjumpa dengan 2 pendaki laki laki dan perempuan dari Czech Republic, mereka sedang perjalanan turun.

Cuaca saat itu berkabut tebal, dingin menusuk tulang, matahari mulai malu malu mucul ke langit tapi sunrise tidak terekam dengan baek karena cuaca yang mendung dan berkabut. Setelah mencapai puncak bayangan, perjalanan makin terjal, diperlukan ektra hati hati karena kalo jatuh batu batu siap melukai kaki dan lutut. Di tengah perjalanan, ada satu tulisan yang terbaca “tugu Yudha” sebuah tugu yang memang diperuntukkan untuk mengingat mendiang pendaki Yudha Sanjaya , pendaki yang hilang di perjalanan menuju puncak ke Kerinci. Selamat jalan bro Yudha..

Semakin mendekati puncak, kabut semakin pekat. Saya mulai kawatir, kawatir jika cuaca terus memburuk dan juga pastinya tidak akan dapat menikmati keindahan puncak Kerinci. Bau asap belerang yang menusuk hidung, memaksaku untuk mengenakan slayer menutupi wajah, andhika juga terus berjalan tertatih dibelakang. Sebentar sebentar kami istirahat, mengatur nafas dan juga ehm poto poto hehe... Sekitar pukul 7 pagi, sampailah kami di puncak Kerinci.Allahu akbar, akhirnya sampailah kami dua pendaki GALAU ini mencapai puncak Andalas, rasa haru menyelimuti karena beratnya perjuangan menuju puncak ini. Tapi kembali lagi, kabut pun tidak hilang hilang dan malah cenderung tebal, kami tidak bisa melihat keindahan kawah kerinci, kawah legendaris yang selalu menumpahkan asap dan merupakan salah satu kawah yang masih aktif di Indonesia. Pemandangan di sekitarpun juga tidak terlihat jelas. Hanya beberapa menit kami di puncak, setelah mengambil beberapa gambar. Sempat saya mencoba untuk menggunakan self timer untuk mengambil poto kami berdua, akan tetapi tanah di sekitar puncak kemiringannya mencapai 45derajat dan angin berhembus kencang, bisa bisa kamera jadul saya jatuh.

Gak berlama lama kami di puncak, kami segera turun. Perjalanan turun harus juga dilakukan dengan hati hati, kalo tepeleset bisa meluncur sampai bawah. Sama seperti saat Andhika meletakkan tas ransel kecilnya, yang jatuh akibat tanah miring dan angin yang menghempaskannnya, untung saja tas tersebut tidak jatuh di jurang, masih nyangkut di batu. Sampai puncak banyangan, mataharipun berani keluar dan menyibak awan hitam di langit dan perlahan lahan kabut tebal mulai berkurang langit biru dan awan putihpun terlihat dengan indahnya, sebuah kombinasi yang sempurna. Disini mulai terlihat pemandangan luar biasa kerinci, karena sudah terbuka semua dan tidak tertutup kabut. Melempar pandangan ke kiri, terlihat kecil Gunung Danau Tujuh di jauh sana.

Sampai di shelter 3, istirahat sebentar terus makan. Dan satu catatan unik pendakian ini adalah pendakian tanpa mie instant alias tidak makan mie instant selama pendakian hehe. Setelah packing rapi, kami bergegas turun, karena juga dikejar waktu dan cuaca yang mulai mendung lagi. Tapi belum sampai di pos pintu rimba R10, hujan pun mendahului kami di perjalanan. Berbekal ponco , kami terus berjalan menerobos hujan yang mengguyur bumi kerinci. Sampai akhirnya kami nyampai di pos rimba R10. Badan sudah basah kuyup, sepatu saya pun juga udah tidak berwarna cokelat tetapi bercampur hitam pekat akibat tanah yang basah dan becek hehe.. Sampai di perkebunan teh, kami coba menumpang kendaraan yang akan turun sambil berjalan pelan, akan tetapi tidak ada satupun kendaraan yang turun. Ada satu truk besar yang lewat, dan gue hentikan untuk menumpang, tapi sayang baknya tidak terbuka dan tertutup terpal, tapi gue nekad karena dengkul gue udah menangis nangis dan gue numpang di depan serta dengan terpaksa gue tinggalkan Andhika yang berjalan sendirian. Sorry loh mas bro hehe. Sampai di tugu macan, gue beli 2 buah minuman isotonik dan selang kemudian Andhika sudah nyampe, trus kami merapat ke base camp pak paiman lengkap dengan ponco yang masih terpakai karena hujan masih mengakrabi bumi kerinci ini.

Alhamdulillah, atap sumatera telah kami capai walau banyak kekurangannya. Terimakasih Ya ALLAH.

Minggu, 12 Februari 2012

MASIH ADAKAH TIKET TIKET MURAH ITU?

Ke Luar Negeri

Periode sekitar mei 2010, saya akhirnya dapat sebuku papor 48 halaman yang dikeluarkan Kantor Imigrasi Depok. Berarti kesempatan saya keluar negeri terbuka karena salah satu syaratnya adalah punya paspor. Banyak maskapai maskapai penerbangan keluarnegeri, cuman saat itu saya bener bener buta akan harga tiket yang ditawarkan. Sampai suatu saat ada sebuah maskapai yang bercorak warna merah menawarkan tiket 0 rupiah,ya 0 rupiah!

Dibelikan sohibku

Kembali masalah tiket murah, waktu pertama kali saya punya paspor, saya hanya sederhana saja keinginanku, ke kinabalu malaysia dan akan mendaki Kinabalu. Tapi saat itu, seorang gadis manis berambut panjang yang memberikan ku tiket murah : "ke penang aja ry, yang kinabalu tidak ada." teriak dia diujung telepon." Oke lah bu, terserah,lha wong aku ndak tau apa apa." sahutku. Akhirnya selembar tiket PP Jakarta Penang ditangan untuk keberangkatan Maret 2011 dengan harga 175000IDR. Setelah itu beberapa kali saya dibelikan tiket oleh beliau, termasuk tiket mudik dan tiket Jakarta Kuala lumpur.

Mulai beli sendiri

Setelah dapat trik triknya, saya pun siap hunting tiket sendiri. tentu saja dengan modal kartu kredit sendiri, lengkap dengan kalender dan juga fantasi pengembaraanku. Beberapa kali saya dapat tiket yang sangat fantastis harganya, bahkan lebih murah dari pajak bandara soekarno hatta untuk penerbangan international. Saya akui, saya adalah seorang pemula dalam hal backpaking dan juga pertiketan. Tapi saya cukup senang dengan tiket tiket murah itu. Daftar beberapa tiket murah yang aku beli : Jakarta - Kinabalu PP 110000IDR, Jakarta Kuala lumpur PP 145000IDR, Jakarta Yogyakarta PP 9 tiket lebaran ) 256000IDR ( lebih murah dari tiket kereta yang sekali jalan bisa mencapai 450000IDR ), Kuala lumpur Vientianner laos 231000IDR

Masihkah ada tiket murah lagi?

Perburuan tiket murah masih aku cari, tapi semenjak beaya bahan bakar di bebankan ke konsumen , harga tiket pun melambung cukup tinggi, dan dari periode promo dari waktu ke waktu akhirnya sebuah tiket pun terasa mahal, gak sefantastis dulu dengan berbagai promo 0rupiah.
Hmmm, akankah tiket tiket murah tersebut masih akan berterbaran lagi?

Jumat, 10 Februari 2012

BOLEHKAH SAYA BERMIMPI KE 7 PUNCAK INDONESIA?



Pendakianku

Saya Erry F Muharrom, saya pencinta alam pemula. Hobby mendaki gunung telah saya lakukan pertamakali di tahun 1999, saat itu saya mendaki merbabu bersama dengan kawan kawan MEPA-UNS. Tahun demi tahun saya masih melakukan pendakian, hingga medio 2002 terakhir kali saya naik ke merapi dan tidak ke puncak garudanya, hanya bersantai di pasar bubrah. Setelah medio 2002 tersebut saya mulai vakum karena beberapa faktor, antara lain faktor akademis sampai saya menamatkan kuliah saya di tahun 2003. Terus saat saya pindah ke Ibukota untuk mencari nafkah sayapun melupakan hobbyku tersebut.

Bak CLBK ( Cinta Lama Bersemi Kembali ) atau lebih tepatnya HLBK ( Hobby Lama Bersemi Kembali ) karena hobby tersebut saya sudah cintai makanya saya namain CLBK hehe. Di tahun 2008 saya diajak sekumpulan pendaki jakarta untuk mendaki arjuna welirang. Tanpa pikir panjang, saya iyakan ajakan tersebut dan sejak saat itu saya mendaki lagi.

7 Puncak Indonesia

Mungkin adalah salah satu impian para pendaki indonesia adalah menyelesaikan 7 puncak tertinggi di Indonesia, saya pun demikian. Kalo boleh bermimpi, mimpi saya adalah itu “menggapai 7 puncak Indonesia”. Tujuh puncak tertinggi di Indonesia berada di tujuh pulau atau kepulauan besar utama di Indoneisa. Adapun untuk daftar 7 puncak di Indonesia adalah sebagai berikut :

1. Gunung Kerinci 3805mdpl ( Pulau Sumatera )
2. Gunung Rinjani 3726mdpl ( Pulau Sunda Kecil )
3. Gunung Semeru 3676mdpl ( Pulau Jawa )
4. Gunung Latimojong 3430mdpl ( Pulau Sulawesi )
5. Gunung Binaya 3027mdpl ( Kepulauan Maluku )
6. Gunung Bukit Raya 2278mdpl ( Pulau Kalimantan )
7. Cartenz Pyramide4864mdpl ( Pulau Papua )

Untuk rekor yang tersedia dari 7 puncak Indonesia ini dibagi menjadi :

a. Rekor pendaki pertama
b. Rekor tim pertama
c. Rekor wanita pertama
d. Rekor secara umur yang pertama
e. Rekor secara waktu kecepatan yang pertama

Menurut sejarah pendakian di Indonesia hanya Dody Johanjaya saja yang baru bisa mencapai 7 summit untuk rekor pendaki pertama, sedang untuk kategori laen belum ada.

Baru 3 puncak

Untuk mewujudkan mimpiku tersebut, saya coba realisasikan dengan mendaki. Sampai saat ini hanya 3 puncak saja yang baru saya gapai. Masih ada 4 puncak lagi yang harus saya gapai dan keempat empatnya berada di lokasi yang jauh dan tentu saja biaya yang besar dan manajemen pendakian yang matang.

Ketiga puncak yang telah saya gapai tersebut adalah :

1. Gunung semeru ( 01 september 2001 dan saya ulang lagi di 26 desember 2009 )
2. Gunung rinjani ( 17 Juli 2010 )
3. Gunung Kerinci ( 18 Desember 2011 )




Oarghh , sungguh pekerjaan rumah yang susah untuk mewujudkannya. Duh GUSTI berikan jalan dariMU untuk mewujudkan mimpiku.amien

Sabtu, 07 Januari 2012

G A L A U

ini postingan pertama gue di tahun 2012 selang beberapa haru gue milad ke 32 tahun, entah kenapa kata kata galau sering banget muncul di media manapun bahkan sampe satu stasiun tv menayangkan acara galau nite, sebenarnya gue juga tidak tau apa arti tuh galau, tapi gue sdikit tau mungkin artinya adalah gundah gulana keke, . semua orang pasti akan mengalami hal itu,termasuk gue . tapi tidak untuk saat ini,ya tidak untuk saat ini,karena walau usia gue 32tahun tapi gue merasa punya spirit 23tahun :-)

Kamis, 03 November 2011

BERKUNJUNG KE TAMAN NASIONAL BALURAN ( Bagian kedua / habis )






Sabtu; 23 Juli 2011

Pagi ini, saya terjaga dan langsung pergi ke bama dengan harapan akan mendapatkan sunrise disana. Terpampang tulisan 3 km ke arah bama. Jalanan masih cukup gelap, sesekali saya menyalakan headlampku. Selangkah demi selangkah kutapaki jalanan yang cukup lebar ini, dan emang jalanan ini cukup untuk satu mobil. Plang 3 km yang terpampang kukira tidaklah tepat, karena kurasa semakin jauh walaupun saya telah melangkah dan menghabiskan waktu lama, rasa kawatir mulai datang karena kalo tidak segera sampai, saya akan kehilangan moment sunrise ini. Dan akhirnya benar juga, saya nyampai ke bama sunrise pun sudah lewat.uhhhh :(

Di bama ada dua guesthouse dan satu gudang serta satu kantin lengkap dengan kamar mandi umumnya. Ada satu bangku di bawah pohon, dan juga fasilitas untuk outbound. Satu mobil elf terparkir disana dan dari sebuah guesthouse keluar sejumlah wisatawan, tampaknya semalam mereka menginap di guesthouse tersebut. Saat saya sedang duduk duduk di bawah pohon, salah seorang menghampiri dan kamipun saling menyapa, akhirnya saya ketahui bahwa mereka berasal dari balikpapan, 3 wanita dan 4 pria. Mereka berwisata ke sini dan selanjutnya akan melanjutkan ke Jember Fashion Carnaval. Setelah ngobrol sebentar, mereka pun treking ke dalam hutan dengan dipandu seorang petugas TNB.

Di bama juga banyak monyet monyet liar dan nakal, monyet monyet itu sering mencuri perbekalan para wisatawan bahkan kamera pun bisa dicuri. Snorkeling, kayaking bisa dilakukan di pantai bama begitu juga dengan diving. Alam bawah laut pantai bama cukup indah. Agak kedalam sedikit, tampak para pekerja sedang membangun sebuah jembatan yang melintasi hutan bakau di pinggiran pantai. Burung burung beterbangan di angkasa, suara debur ombak sahut menyahut dengan suara burung burung di bama. Setelah menghabiskan cukup waktu disini, rasa lapar dan hauspun memanggil dan kantin pun siap untuk menjadi pertolongan pertamaku pada rasa lapar ini. Alhamdulillah, akhirnya ketemu nasi juga hari ini heheh..Di kantin bama selain mie instant yang praktis juga tersedia nasi laukpauk serta minuman panas ataupun softdrink.

Setelah puas di bama, saya memutuskan untuk balik lagi ke bekol. Sampai di bekol saya langsung bergabung ke aula menemui kawan kawan dari Sentraya buana lagi. Ada 4 anggota sentraya yang ditinggal di aula karena satu orang sakit sedangkan yang tiga anggota putri disuruh menjaga dan ditinggal di bekol. Di belakang aula ada satu kubangan cuku lebar dan hari ini saya akan mengendap endap untuk memotret satwa yang akan mengambil air disana. Setelah cukup menunggu, akhirnya datang juga serombongan merak, rusa yang berame rame mengambil air minum. Selang 30 sampai 45 menit kemudian datang lagi serombongan merak. Dalam otakku berpikir, mungkin tiap 30 sampai 45 menit para binatang binatang ini akan memenuhi hajat minumnya di kubangan ini.

Di hari kedua di baluran ini, saya habiskan waktu di sabana bekol lagi. Memotret satwa yang sedang minum, naek ke tower lagi, ngobrol bareng kawan kawan sentraya. Ketika menjelang sore, saya bersiap untuk meninggalkan baluran ini. Saya akan tinggalkan baluran yang indah, baluran yang masih menyisakan suatu tanda tanya bagi saya : kelak jika saya balik lagi kesini, akankah rusa rusa liar itu masih ada, ataukah merak merak yang indah dan banteng banteng yang misterius ini masih ada ? ataukah sudah menjadi legenda saja. Akankah akasia akasia ini akan semakin menjadi tanaman blunder yang akan menggerus sabana sabana di baluran ini? Harapan saya Semoga, yach semoga saja yang ada di TNB ini masih akan lestari dan ekosistemnya masih terjaga.

Akhirnya deru suara motor ojeg pun membawa saya meninggalkan TNB ini, setelah berpamitan dengan kawan kawan sentraya, petugas TNB dan kawan kawan dari IPB. Dan saya berharap satu saat nanti, bisa mengunjungi baluran lagi..salam

erry ucapkan terimakasih kepada :
1.ALLAH untuk segalanya.
2.Ortuku dan adikku , lagi lagi aku gakpamit
3.Kawan2 di kantor yang aku tinggal 2 hari
4.Panca O, mahasiswi IPB atas kompor mleduknya'
5.Mas Swiss, dan para petugas TNB maturnuwun mas
6.Om Sulhan, lensa 300mmnya diganti dong om , kurang mantep tuh kekek
7.Kawan2 sentraya buana
8.Dan semua pihak yang tidak dapat tertulis disini kekeke.





Rabu, 19 Oktober 2011

laos

puesawat merah airaia mendarat mulus di bndara international vientinne laos.pra penumpang bergegas turun., dengan langkh pasti.,ku menuju proses imigrasi tanpa mengisi permohonan VOA karena per tanggal 23 september untuk warganegara indonesia bebas visa 30 hari. sebuah cap kotak danselembar kertas putih tertempel di halman pasporku. setelah keimigrasian selesai.,sekarang waktunya tuk jual dollar dan beli laos kip. 1 usd samadengan 8000 laos kip. 130 usd kukeluarkan dari dompet dan sebanyak 1040000laos kip digengganamnku. hari masih sore.dan wakytu vientienne samsdengN waktu indonesia bwrat.,sekedar aku jalan2 memutari area terminal bandara ini.bandara yang sangat kecil untuk ukuran international tapi bersih dan bebas dr calio.kutemui salah satu turis dari indonesia "saya ratih" "saya erry" sahut ku memulai pembicaraann."mbak ratih mau ke lung prabang?" "gak mas.udah pernaho.saya di vientianne aja.nih kawanku dari manila.dia mau ke luang prabang"serayamengenalkanturi pilipin di depanku."can we go together with you?i want to go to luang prabang,can i joint?" " oh.i amsorry . i already to go with her.she hve a guesthoese in luang prabang and we go by minivan and the minivan is full of attendas.iam sorry. "it's oke miss.nevermind.i can go by myself." akhirny si turis pilipina pamitan dengan mbak ratih dengan cipima cipiku setelah sebelumnya aku bantu mengambil gambar mereka.otakku mulai melayang lanyang.gue teringat seorang irishman yang sempet saya sapa di bandara malwysia sebelum terbang ke laos. aha.dia tepat didepanku diikuti seorang bule dan seorang wnita berras melayu. aku muali menyapa dan menwarkan untuk bareng ke pusat kota. bak gayung bersanbut.tawaran kami pun di iyakan mereka.jadilah kami berempat pergi meninggalkan bandara vientianne.cewek malaysia tersebut terntata cukup fasih berbahasa indonesia dan bule laki itu adalah kawannya jugafasihberbahasa indonesia dan dia juga tau beberapa regulsi republik ini.seperti fiskal udara. kampus ui pun dia tau.setelah saya sebut bahwa saya kost di deket kampus ui depok.kecuali si irishmen yang gakbisa bahasa indonesia keke.sembari menunggu tuk tuk.kamipun banyak ngobrol.kuceritakan bahwa diriku bermaksud ke luang prabang.si irishmen mo ke vengveng . begitu juga si malaysian da n bulenya juga ke vengbveng.sebuah toyota hilux berjalan pelan di samping kami.terbuka kaca depannya sambil sopirnya berteriak "follow me.to central town of vientianne." "oh relly.how much wemust pay?" ahutsi irishmen."it.'s free." come on"."oke. bak dapat durian runtuh.kamipun segera memasuki mobil yang berkapasitas cuman 5orang itu dansatu bak di belakang.smapai saat itu.kuberpikir orang laos baek baek hahah
uasana di mobil rame.,sahut sahutan 5 orang kepala disana.mulai si sopir yang kalah taruhan.si ireshmen yang pengin cari mobil ke veng veng.dan dsimalaysian n si bulebyang mo joint ke vengveng.sedang saya cumab senyum dikit dan berharap dapat segera ke kota tu k cari makan malam dan segera beli tiket bus malam ke luang pranang. malam itu sangat rame.di kanan jalan telintas sebuah sungai yang sabgat terkenal 'mekong river' banyak akak anak maetn bola.di kiri jalan berjejer guesthose dan warung warungmakan . si laos men menghentikan mobil do taman samping mekong rivers

Minggu, 16 Oktober 2011

BERKUNJUNG KE TAMAN NASIONAL BALURAN









“ca,kl ke tn baluran dewean bs gak?trus pa ja yg ad dsn?”

“rekomended bgt mz, africa van java,bs birdwatching, motret, liat alam liar & snorkeling. Dan jg bs nyebrang ke tnl bali barat.kpn mas?”

“insyaallah,mgu dpn”

“nti ak ksh tau tmnku yg dsn,mas swiss namanya dia karyawan tnb”

“o,mas swiss the next riza marlon,fotone keren2.oke ca,tx”

Itulah sekelumit sms yang kukirim kepada kawanku, akhirnya kuputuskan pergi ke Taman Nasional Baluran ( TNB ) situbondo, menyisihkan Mahameru, Arjuna Welirang dan juga Kawah Ijen karena terasa berat kalo sendirian kesana, sementara hasrat tuk ngluyur tak tertahankan apalagi kerjaan di tahun ajaran baru ini bikin diriku jungkir balik tidak karuan.

Banyak cara untuk mengunjungi TNB, bisa lewat udara dari Jakarta ke Surabaya trus disambung jalan darat naek bus ke Banyuwangi turun pas di depan TNB. Kereta api dan bus juga tersedia tuk jurusan Banyuwangi walaupun sebenarnya TNB ada di wilayah administratif Situbondo. Akhirnya saya memutuskan naek kereta, karena mahalnya tiket pesawat yang tidak sanggup saya beli ( maklumlah karyawan kere keke ).

Rabu, 20 Juli 2011 bergegas saya lari ke stasiun Senen, tapi apes hari ini, saya tidak bisa mengejar kereta terakhir ke Surabaya akhirnya saya pilih kereta bisnis jurusan Jogjakarta dengan selembar tiket berdiri ( karena kereta penuh saat itu ). Saya sisir dari gerbong ke gerbong dan akhirnya mentok di gerbong 4 tepat dibelakang kursi terakhir ada satu lapak untuk menggelar koran, meletakkan daypack sebagai bantal dan cukup bisa membuat saya tertelap di kereta malam ini setelah sebelumnya menyantap sepiring nasi goreng senja Jogja sebagai makan malam dan sebotol air mineral sebagai teman perjalanan.

Kamis, 21 juli 2011 kereta senja utama berhenti mulus di stasiun Tugu Yogyakarta sebagai stasiun tujuan terakhir. Dari sini, saya menumpang kereta Prameks ke stasiun Lempuyangan untuk melanjutkan perjalanan panjang lagi menuju Banyuwangi. Kereta rakyat “Sri Tanjung” sudah menunggu disana. Pukul 07.30 kereta meninggalkan stasiun Lempuyangan, membelah tanah jawa menuju stasiun ketapang, daerah paling timur pulau jawa yang berbatasan langsung dengan pulau bali terpisah oleh selat bali. Kereta masih terlihat sepi, di gerbong yang saya tempati ada 2 turis dari belanda lengkap dengan carier besar dan buku panduan travelling “lonely planet edisi Indonesia”, sempat saya sapa dan dia menjawab akan ke Bromo. Ada juga rombongan besar anak anak muda dari kampus ITB jurusan Geologi. “ Mau ke rinjani mas” sahut mereka saat kutanya tujuannya. Sedikit saya agak terkejut karena menurutku kalo emang tujuan ke rinjani lebih baek berangkat dari bandung menuju surabaya dengan kereta, baru langsung naek bus dari Surabaya ke Mataram, jadi tidak terlalu lama jika dari Bandung ke Jogjakarta trus ke Banyuwangi nyeberang ke Denpasar baru ke Mataram. Oughh,..terbayang lama dan capeknya.

Pukul 10 malam kereta tiba di stasiun Ketapang, sungguh perjalanan yang sangat panjang, dan melelahkan, dari Jakarta ke Jogjakarta sekitar 10 jam ditambah 14 jam dari Jogja ke Banyuwangi total 24 jam di kereta. Damnn..Trainleg. Dengan langkah gontai saya meninggalkan stasiun, hari masih malam dan saya tidak bisa langsung melanjutkan perjalanan ke TNB dan lebih memilih istirahat di pojok masjid dekat stasiun dengan resiko akan diomelin karena tiduran di masjid hehe..

Jum’at, 22 Juli 2011 pagi segera kutinggalkan masjid samping stasiun ketapang banyuwangi dan bergegas menuju ke situbondo. Bus AKDP ukuran besar membawaku dari Banyuwangi ke Situbondo, gaksampai 30 menit tepat disebelah kanan jalan di tembok gapura tertulis “ Taman Nasional Baluran ” berbentuk lingkaran dengan gambar seekor banteng ditengahnya dengan latar belakang gunung baluran. Ya, itulah taman nasional baluran, sebuah tempat yang ditetapkan pemerintah menjadi taman nasional di tahun 1980an dan menjadi cikal bakal taman nasional di Indonesia, tempat yang biasa disebut “africa van java” karena adanya padang savana yang luas dan tempat habitat banteng jawa masih hidup berdampingan dengan kerbau hutan, merak, rusa, anjing hutan, berbagai hewan melata, burung burung dan hewan lainnya.

Menurut wikipedia : Taman Nasional Baluran adalah salah satu Taman Nasional di Indonesia yang terletak di wilayah Banyuputih, Situbondo, Jawa Timur (sebelah utara Banyuwangi). Nama dari Taman Nasional ini diambil dari nama gunung yang berada di daerah ini, yaitu gunung baluran. Gerbang untuk masuk ke Taman Nasional Baluran berada di 7°55'17.76"S dan 114°23'15.27"E. Taman nasional ini terdiri dari tipe vegetasi sabana, hutan mangrove, hutan musim, hutan pantai, hutan pegunungan bawah, hutan rawa dan hutan yang selalu hijau sepanjang tahun. Tipe vegetasi sabana mendominasi kawasan Taman Nasional Baluran yakni sekitar 40 persen dari total luas lahan.

Sesampai di TNB, kusempatkan nelepon mas swiss. “ langsung aja ke PEH mas, saya disini sama anak anak IPB ” sahutnya di ujung telepon. Akhirnya, saya ketemu dengan mas swiss aka kebo giraz giraz , seorang alumni fakultas kehutanan UGM angkatan 99, peneliti, fotografer alam liar yang mempunyai kemampuan handal ( semoga menjadi The Next Riza Marlon, Mas ) dan baru pertama ketemu aku sudah bisa menilai bahwa dia punya sense of art yang tinggi, tulisan maupun fotonya banyak masuk di majalah National Geographic Indonesia, ebook mengenai burung di TNB di download ribuan orang dari berbagai profesi, mulai dari peneliti, traveller, mahasiswa, ibu rumah tangga dan tentu saja para pengamat burung ( Birdwatcher ) dan sekarang telah muncul versi bahasa Inggrisnya serta blognya bisa di akses di http://pratapapa81.wordpress.com/ menjadi referensi atau contekan para traveller sebelum menginjak kaki di TNB ini.

“Selamat datang di TNB mas, mo ngopi ? Rokok ?” sambut mas swiss seraya menyodorkan sebungkus GG international.” Ada mas,” sahutku sembari mengeluarkan sebungkus Surya 12. “ tapi saya gak ngopi, asam lambung bisa kambuh.” Walaupun dengan wajah agak kelelahan, dia tetap menyambutku. Saya tahu emang TNB seminggu yang lalu lagi ada acara nasional “Lomba Pengamatan Burung” dan tentu saja mas swiss telah capek pontang panting sebagai panitia.” Saya hanya having fun aja kok mas disini, gakada unsur akademis, penelitian apalagi motret serius” kataku. “ hehe..oke mas, maaf ya gakbisa nemenin, saya kecapaian, rencana saya hari ini emang gakmau masuk tapi tadi ditelepon disuruh nemenin anak anak IPB hari ini. Saya tinggal dulu ya mas ya, met jalan jalan” terang dia. "Oke" percakapan yang singkat namun terasa.

Saya sempet ditawarin untuk bareng ke dalam bareng para mahasiswa IPB dengan mobil proyek tapi saya tolak dengan halus, dan memilih ngojeg kedalam saja. Akses kedalam TNB bisa dicapai dengan jalan kaki jika emang punya tenaga lebih dan waktu yang panjang, tertera 12 km tuk mencapai savana bekol. Atau bisa juga dengan jasa ojeg, dengan 3 lembar duit 10ribuan anda bisa mencapai savana bekol. Dan saya rasa jarak antara pintu gerbang TNB sampai bekol lebih dari 12 km, karena waktu naek ojeg kerasa jauh banget dan gak nyampe nyampe kekeke. Tarif untuk pengunjung lokal Rp 2500,00 sedangkan untuk untuk orang asing Rp 30.000,00. Dari pintu gerbang akan terlihat hutan yang rindang diselingi semak semak di kanan kiri jalan. Jalan cukup lebar untuk 2 mobil tetapi tidak mulus karena banyak lobang lobangnya. Sebelum memasuki sabana, perjalanan akan disuguhi kawasan hijau ( evergreen ) rindang dengan banyak kanopi yang merindungi bumi dari sengat panas matahari langsung. Konon, di evergreen ini masih ada ular Viper. Setelah memasuki kawasan sabana bekol, selayang pandang ke kiri akan terlihat gunung yang tidak terlalu tinggi yaitu gunung baluran. Gunung baluran setinggi 1247mdpl ini konon sebagai tempat terakhir populasi banteng liar. Walaupun tergolong tidak terlalu tinggi, kontur gunung ini sangat rapat.

Ada beberapa tempat di TNB ini yang bisa dikunjungi antara lain : sabana bekol, bama, batangan, kancip serta gunung baluran sendiri. tapi yang sering dikunjungi adalah sabana bekol dan bama karena di samping mudah aksesnya juga disini terdapat beberapa bangunan yang dikhususkan sebagai “guesthouse”. Ojeg yang mengantarkan saya ke sabana bekol. Sampai di sabana bekol, sangat ramai sekali saat itu. Puluhan mahasiswa Universitas Indonesia berkumpul di guesthouse dan sekitarnya, rupanya hari ini adalah hari terakhir mereka yang sedang mengadakan penelitian dan sedang menunggu kendaraan jemputan untuk membawa mereka meninggalkan TNB. Dengan terpaksa, saya menunggu guesthouse untuk dikosongkan, padahal rasanya badan ini remuk dan pengin istirahat sekedar rebahan karena saya terasa TrainLeg hehehe.

Sembari menunggu para mahasiswa ababil ini, tanpa buang waktu langsung saya keliling sabana bekol ini, mulai dari guesthouse guesthouse yang tersedia : wisma rusa, wisma banteng, wisma merak, pos polisi hutan dipaling ujung, aula bekol serta kantin dan pos penjaga bekol. Banyak sekali tengkorak tengkorak kepala banteng, kepala kerbau tertata rapi di pos polisi hutan, aula dan disamping sabana yang menandakan emang di TNB ini ekosistem masih terjaga. Di belakang berdiri tegak sebuah menara pemantau burung setinggi 10an meter dengan tangga berundak undak di bawahnya. Dari menara pantau ini akan terlihat seluruh kawasan TNB yang meliputi sabana yang luas, dan pohon akasia dan selayang pandang juga kan terlihat gunung baluran dan lautan lepas di arah timur. Sangat berasa bebas sekali ketika melepas pandangan dari menara ini, karena yang terlihat hutan luas jauh dari kebisingan kota dan kesemrawutan kota. Lokasi menara pantau ini sangat nyaman, walau kadang panas menyengat tapi anginnya kencang, banyak pasangan muda mudi yang memadu kasih disini, seperti yang terlihat waktu saya akan naik ke menara pantau ini kekeke.

Setelah puas di menara pantau, saya turun ke bawah menuju ke sabana bekol. Bekol sendiri diambil dari salah satu tanaman yang ada di TNB ini dan memang terlihat di sekitar menara pandang ada beberapa pohon bekol. Di sabana bekol terdapat kubangan yang memang diperuntukkan untuk persediaan air tempat para satwa minum. Sabana ini sangat panas, karena minim sekali pohon yang ada dan hanya hamparan padang yang luas, tandus dan gersang. Inilah ke khasan TNB sebagai Little Africa Van Java. Di kubangan ini, saya belum menemukan satupun satwa yang ada, karena emang kebiasaan para satwa mencari air adalah sore hari. Saya hanya mengambil beberapa poto landscape dan mencoba panoramic poto sebelum akhirnya balik ke kantor savana bekol.

Hari masih terasa panas, sementara di pos TNB bekol ada 2 sampai 3 petugas dan dibelakannya ada kantin yang masih rame karena memang masih ada mahasiswa UI. Saya sempatkan makan siang dan sekedar melepas dahaga di kantin ini, biasanya emang kalo ada acara kantin akan buka dan menyediakan nasi serta lauk dan minuman. Sedangkan kalau tidak ada acara atau pengunjung tidak datang dalam rombongan yang ramai, kantin hanya menyediakan makanan instant seperti popmie, minuman seduh dan kudapan ringan lainnya. Di pos bekol terhitung lengkap, ada tv yang bisa menangkap siaran tv nasional, HT penghubung dengan pos bama dan kantor TNB, toilet, mushola dan meja tamu. Makanan instant pun ada disini, tinggal memasak air yang ada di dapurnya. Saat saya sedang menghisap rokok untuk membuang jenuh, datanglah sejumlah anak muda lengkap dengan carier besar dan berkemeja lapangan, di dada kiri tertulis jelas " SENTRAYA BUANA " datang ke pos tempat saya istirahat. Eng ing eng...akhirnya saya dapat teman disini selain ngobrol dengan petugas hehe. " dari mana mas?" tanya dia. " dari jakarta " jawabku. " o, kami dari UNS" sambungnya seraya menjabat tanganku. " saya juga alumni UNS' sahutku. "o ya, fakultas apa?" si laki laki berambut gimbal menimpali. " ekonomi," jawabku singkat. "o, ekonomi, berarti MEPA" terangnya. " iya, saya juga alumni MEPA" terangku juga. " o, kita tetanggaan mas, kami dari SENTRAYA BUANA sastra." jelas dia." ya, saya tau dari tadi di kemeja lapangan anda. cuman saya dah angkatan lama, jadi dah lupa ma kawan kawan sentraya dulu." Mungkin karena sesama mapala, jadi obrolan siang itu jadi cepat nyambung. Sentraya susah 3 hari an disini, mereka mengadakan ekspedisi di TNB kemarin ke batangan dan rencana besok ke kancip, meneliti mata air di kancip.

Siang itu kami lewatkan beramai ramai dengan ngobrol ngalor ngidul mengenai kampus uns dan juga antar mapala kedua belah pihak dan setelah sore saya dan beberapa anggota sentraya mulai naik lagi ke menara. Begitu terlihat dari menara sekawanan rusa sudah bergerombol di dekat kubangan untuk mengambil minum. Dari atas menara aku coba untuk membidikkan kameraku dan lensa tele 300mm pinjaman, akan tetapi jarak yang cukup jauh serta kemampuan lensa yang pas pasan tidak mampu menghasilkan gambar yang optimal. Akhirnya saya turun ke sabana dan segera mengendap endap di kubangan, agar para rusa tidak mengetahui kehadiran manusia, kalo sampai tahu mereka akan lari tunggang langgang. Dari jarak yang cukup, saya mulai bidik lensaku ke arah gerombolan rusa untuk sekedar mengabadikan kehidupan alam liar TNB. Setelah puas dengan memotret rusa, saya balik lagi ke menara pandang, sebelum naek ke atas sekilas kulihat ada merak betina yang mengambil air minum di kubangan samping aula. Saya sempet juga mengendap endap dan mengambil poto sebelum sang merak pergi karena suara langkah kakiku.

Hari semakin sore, tampak semburat fajar di ufuk barat, tak sempat saya ganti lensa wide, SUnset keburu datang dan dengan tele pula aku ambil gambarnya ( sial )..tapi takpalah, cukup puas saya. Kembali saya naek ke menara pandang, disana ada 3 gadis anggota stentraya dan seorang petugas dari TNB yang akan jadi pemandu mereka ke kancip besok dan 2 orang mahasiswa IPB. Kami asyik ngobrol mulai dari banyaknya ular cobra di sabana bekol, hingga ular piton di bama ataupun binatang melata yang laen di kancip, hingga perbincangan yang fenomenal dan menjadi masalah TNB sekarang yaitu tumbuhnya pohon akasia yang secara pelan tapi pasti menggerus sabana. Dulu di TNB ini memang sering terjadi kebakaran, dan sebagai salah satu cara mencegahnya pihak Taman Nasional membuat kebijakan untuk menanam pohon akasia sebagai penangkal dari ancaman kebakaran hutan. Tapi justru ini menjadi blunder karena biji pohon akasia ini dimakan oleh binatang binatang dan membuang kotoran kemana mana serta banyaknya sisa biji akasia yang berjatuhan ke tanah sehingga cepat pertumbuhan pohon akasia pun tidak terkendali dan terus tumbuh besar dan luas. Akibatnya sabana tertutup oleh pohon pohon akasia, dan ini bisa berakibat fatal karena ekosistem yang ada akan terganggu serta rantai makanan bisa terputus, yang dengan sendirinya akan mengakibatkan banteng jawa akan berkurang dan akan punah!

Inilah yang menjadi pekerjaan rumah bagi pihak TNB dan instansti yang terkait karena pemusnahan pohon akasia memerlukan dana yang besar dan harus dilakukan secara berkesinambungan. Hari semakin laut dan malam pun menggantikan siang, secara spontan petugas TNB ( namanya lupa ) berteriak " lihat di sebelah sana, itu ada hewan hitam berkaki putih, itulah banteng" . " subhanallah, berpasang mata yang ada diatas langsung mengarahkan pandangannya ke arah banteng tersebut, tampak dia berjalan pelan menuju kubangan, sepertinya hendak minum. hari yang udah terlalu gelap, saya coba bidik pake kamera, tapi hanya denyit suara autofokus yang nampak kelelahan dan tidak sanggup mencari fokus yang tepat sehingga gambar bidikan menjadi blur dan gelap. Betapa girangnya kami malam ini. Sempat berujar, mahasiswa IPB berharap jebakan ( trap camera) yang mereka pasang dipohon dekat kubangan mampu menghasilkan gambar yang baek dan berharap si banteng masuk ke perangkap trap camera - nya. Saya sendiri juga cukup puas, walaupun tidak dapat foto yang bagus tapi saya masih bisa melihat banteng hidup di alam bebas.Subhanallah

Malam semakin larut, suara merak jantan mulai bersahutan tandanya mereka juga akan segera pergi ke peraduannya. Semua yang di menara pandang satu persatu pun turun dan kembali ke pos. Di pos ini, akhirnya saya dapat kunci sebuah kamar di wisma merak atas, hanya dengan membayar Rp 30 ribu untuk satu malam. Senang sekali malam itu, karena akhirnya saya bisa istirahat setelah perjalanan cukup panjang dan melelahkan. Sebelum terlelap saya sempat berkirim sms : Ca, akhirnya saya liat banteng di TNB.tapi tidak bisa memotretnya :) dan akhirnya sayapun terlelap.